Rabu, 16 Desember 2020


 



Gizi Optimal untuk Generasi Milenial – Ayo Jadi Milenial Sadar Gizi


oleh Siti Nurrochmah Bayuningsih, S.Gz





Karakter Generasi Milenial :

  • Percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah.
  • Lebih memilih ponsel dibanding TV.
  • Pengguna media sosial yang fanati
  • Kurang suka membaca secara konvensional.
  • Cenderung tidak loyal namun bekerja efektif.
  • Cenderung melakukan transaksi secara cashless (non tunai).
  • Memanfaatkan teknologi dan informasi.
  • Cenderung lebih malas (mager) dan  konsumtif.
  • Kreatif, informatif, mempunyai passion dan produktif.
  • Komunikasi yang terbuka.
  • Terlihat sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan yang terjadi di sekelilingnya.

Pola Makan dari Generasi Milenial?

  • Paling sering makan makanan restoran / kulineran.
  • Berlomba-lomba untuk mencicipi segala makanan yang sedang viral.
  • Beli makanan via aplikasi.
  • Gemar minum minuman instan, botolan dan softdrink.
  • Mengganti makan berat dengan ngemil.
  • Hobi mencari makanan yang unik, enak, bahkan kalau bisa organi
  • Membaca kemasan sebelum membeli makanan atau minuman.
  • Sering melakukan diet yang salah.

Diet di Era Generasi Milenial?

  • Tidak sarapan pagi.
  • Tidak menghiraukan kalori dari minuman.
  • Makan terlalu banyak protein dan lemak.
  • Makan tanpa garam.
  • Kekurangan serat
  • Memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan.
  • Minum obat pelangsing tanpa pengawasan dokter.

Tanda Jika Diet yang Dilakukan Ternyata Salah?

  • Perut yang kembung dan begah sepanjang hari.
  • Sembelit atau diare.
  • Merasa lapar sepanjang waktu.
  • Mood selalu buruk bahkan mudah mengalami depresi.
  • Merasa lelah dan tidak berenergi sepanjang hari.
  • Mudah kedinginan
  • Mudah lupa
  • Mudah terserang penyakit.
  • Kulit menjadi kusam.
  • Bibir pecah-pecah.
  • Rambut mudah rontok.

Yang Benar Adalah “Pola Makan dengan Gizi Seimbang.

Gizi Seimbang

Susunan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal untuk mencegah masalah gizi.

  1. Syukuri dan Nikmati Aneka Ragam Makanan
  • Kualitas atau mutu gizi dan kelengkapan zat gizi dipengaruhi oleh keragaman jenis pangan yang dikonsumsi. Semakin beragam jenis pangan yang dikonsumsi semakin mudah untuk memenuhi kebutuhan gizi.
  • Mengonsumsi lima kelompok pangan setiap hari atau setiap kali makan.
  • Kelima kelompok pangan tersebut adalah makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, dan
  • Mengonsumsi lebih dari satu jenis untuk setiap kelompok makanan (makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan) setiap kali makan akan lebih bai
  • Bersyukur dapat diwujudkan berupa berdoa sebelum makan.
  • Nikmatnya makan ditentukan oleh kesesuaian kombinasi aneka ragam dan bumbu, cara pengolahan, penyajian makanan dan suasana makan.
  • Cara makan yang baik adalah makan yang tidak tergesa-gesa.
  • Mendukung terwujudnya cara makan yang baik, tidak tergesa-gesa.
  • Dengan demikian makanan dapat dikunyah, dicerna dan diserap oleh tubuh lebih baik.
  1. Perbanyak Sayur dan Cukup Buah

Sayuran dan buah-buahan merupakan sumber berbagai vitamin, mineral, dan serat pangan. Sebagian vitamin, mineral. Berperan sebagai antioksidan atau penangkal senyawa jahat dalam tubuh. Buah-buahan juga menyediakan karbohidrat terutama berupa fruktosa dan glukosa.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 g perorang perhari, yang terdiri dari 250 g sayur (setara dengan 2 ½ porsi atau 2 ½ gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 g buah, (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 ½ potong pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang).

Bagi orang Indonesia dianjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan 300-400 g perorang perhari bagi anak balita dan anak usia sekolah, dan 400-600 g perorang perhari bagi remaja dan orang dewasa. Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi sayuran dan buah-buahan tersebut adalah porsi sayur.

  • Kajian menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut berperan dalam menjaga kenormalan tekanan darah, kadar gula dan kolesterol darah.
  • Konsumsi sayur dan buah yang cukup juga menurunkan risiko sulit buang air besar (BAB / sembelit) dan kegemukan.
  • Konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup turut berperan dalam pencegahan penyakit tidak menular kronik.
  • Semakin matang buah yang mengandung karbohidrat semakin tinggi kandungan fruktosa dan glukosanya, yang dicirikan oleh rasa yang semakin manis. Konsumsi buah yang terlalu matang dan minuman jus bergula perlu dibatasi agar turut mengendalikan kadar gula darah.
  • Konsumsi sayuran dan buah-buahan yang cukup merupakan salah satu indikator sederhana gizi seimban
  1. Konsumsi Lauk Pauk Tinggi Protein
  • Lauk pauk terdiri dari pangan sumber protein hewani dan pangan sumber protein nabati.
  • Lauk pauk sumber protein hewani meliputi daging ruminansia (daging sapi, daging kambing, daging rusa, dan lain-lain), daging unggas (daging ayam, daging bebek dan lain-lain), ikan termasuk seafood, telur dan susu serta hasil olahnya.
  • Kelompok pangan lauk pauk sumber protein nabati meliputi kacang-kacangan dan hasil olahnya seperti kedele, tahu, tempe, kacang hijau, kacang tanah, kacang merah, kacang hitam, kacang tolo dan lain-lain.

Lauk  hewani

  • Asam amino yang lebih lengkap dan mempunyai mutu zat gizi yaitu protein, vitamin dan mineral lebih baik.
  • Lebih banyak dan mudah diserap tubuh.
  • Mengandung tinggi kolesterol (kecuali ikan) dan lemak.
  • Lemak dari daging dan unggas lebih banyak mengandung lemak jenuh. Kolesterol dan lemak jenuh diperlukan tubuh terutama pada anak-anak tetapi perlu dibatasai asupannya pada orang dewasa.

Lauk  Nabati

  • Proporsi lemak tidak jenuh yang lebih banyak dibanding pangan hewani.
  • Isoflavon, yaitu kandungan fitokimia yang turut berfungsi mirip hormon estrogen (hormon kewanitaan) dan antioksidan serta anti-kolesterol.
  • Konsumsi kedele dan tempe telah terbukti dapat menurunkan kolesterol dan meningkatkan sensitifitas insulin dan produksi insulin à dapat mengendalikan kadar kolesterol dan gula darah.
  • Kualitas protein dan mineral yang dikandung pangan protein nabati lebih rendah dibanding pangan protein hewani.
  • Kedua kelompok pangan ini (hewani dan nabati) perlu dikonsumsi bersama kelompok pangan lainnya setiap hari, agar jumlah dan kualitas zat gizi yang dikonsumsi lebih baik dan sempurna.
  • Kebutuhan pangan hewani 2-4 porsi, setara dengan 70-140 g (2-4 potong) daging sapi ukuran sedang; atau 80-160 g (2-4 potong) daging ayam ukuran sedang; atau 80-160 g (2-4 potong) ikan ukuran sedang sehari.
  • Kebutuhan pangan protein nabati 2-4 porsi sehari, setara dengan 100-200 g (4-8 potong) tempe ukuran sedang; atau 200-400 g (4-8 potong) tahu ukuran sedang.
  • Porsi yang dianjurkan tersebut tergantung kelompok umur dan kondisi fisiologis (hamil, menyusui, lansia, anak, remaja, dewasa).
  1. Biasakan Konsumsi Aneka Ragam Makanan Pokok

Makanan pokok antara lain : beras, kentang, singkong, ubi jalar, jagung, talas, sagu, sukun. Berikut ini tabel kelompok makanan pokok sebagai sumber karbohidrat beserta padanan porsinya :

Makanan Pokok Sebagai Sumber Karbohidrat

Kandungan zat gizi per porsi nasi kurang lebih seberat 100 gram, yang setara dengan ¾ gelas adalah : 175 Kalori, 4 gram Protein dan 40 gram Karbohidrat.

Dapat mengangkat citra pangan karbohidrat lokal seperti pengembangan produk boga yang beragam misalnya, roti atau mie campuran tepung singkong dengan tepung terigu, pembuatan roti gulung pisang, singkong goreng keju dan lain-lain.

  1. Batasi Makanan Asin, Manis, Berlemak
  • Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2013 tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji.
  • Konsumsi gula lebih dari 50 g (4 sendok makan).
  • Natrium lebih dari 2000 mg (1 sendok teh).
  • Lemak / minyak total lebih dari 67 g (5 sendok makan).
  • Meningkatkan risiko hipertensi, stroke, diabetes, dan serangan jantung.
  • Khusus untuk anak usia 6-24 bulan konsumsi lemak tidak perlu dibatasi.
  1. Biasakan Sarapan

Sarapan adalah kegiatan makan dan minum yang dilakukan antara bangun pagi sampai jam 9 untuk memenuhi sebagian kebutuhan gizi harian (15-30% kebutuhan gizi) dalam rangka mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif.

Sarapan membekali tubuh dengan zat gizi yang diperlukan untuk berpikir, bekerja, dan melakukan aktivitas fisik secara optimal setelah bangun pagi.

Bagi anak sekolah, sarapan yang cukup terbukti dapat meningkatkan konsentrasi belajar dan stamina.

Bagi remaja dan orang dewasa sarapan yang cukup terbukti dapat mencegah kegemukan.

Membiasakan sarapan juga berarti membiasakan disiplin bangun pagi dan beraktifitas pagi dan tercegah dari makan berlebihan dikala makan kudapan atau makan siang.

  1. Biasakan Minum Air Putih yang Cukup
  • Air merupakan salah satu zat gizi makro esensial, dibutuhkan tubuh dalam jumlah yang banyak untuk hidup sehat, dan tubuh tidak dapat memproduksi air untuk memenuhi kebutuhan ini.
  • Sekitar dua-pertiga dari berat tubuh kita adalah air.
  • Air diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal
  • Berbagai faktor dapat memengaruhi kebutuhan air seperti tahap pertumbuhan, laju metabolisme, aktivitas fisik, laju pernafasan, suhu tubuh dan lingkungan, kelembaban udara, jumlah dan jenis padatan yang dikeluarkan ginjal, dan pola konsumsi pangan.
  • Air berfungsi sebagai pengatur proses biokimia, pengatur suhu, pelarut, pembentuk atau komponen sel dan organ, media tranportasi zat gizi dan pembuangan sisa metabolisme, pelumas sendi dan bantalan organ. Proses biokimiawi dalam tubuh memerlukan air yang cukup.
  • Gangguan terhadap keseimbangan air: sulit ke belakang (konstipasi), infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, gangguan ginjal akut dan obesitas.
  • Sekitar 78% berat otak adalah air. Penelitian membuktikan bahwa kurang air tubuh pada anak sekolah menimbulkan rasa lelah (fatigue), menurunkan atensi atau konsentrasi belajar, mengoptimalkan memori anak dalam belajar.
  • Pemenuhan kebutuhan air tubuh dilakukan melalui konsumsi makanan dan minuman.
  • Sebagian besar (dua-pertiga) melalui minuman yaitu sekitar dua liter atau delapan gelas sehari bagi remaja dan dewasa
  • Air minum harus aman, bebas dari kuman penyakit dan bahan-bahan berbahaya
  1. Biasakan Membaca Label Kemasan Makanan
  • Label adalah keterangan tentang isi, jenis, komposisi zat gizi, tanggal kadaluarsa, dan keterangan penting lain yang dicantumkan pada kemasan.
  • Membantu konsumen untuk mengetahui bahan-bahan yang terkandung dalam makanan tersebut.
  • Dapat memperkirakan bahaya yang mungkin terjadi pada konsumen yang berisiko tinggi karena punya penyakit tertentu atau alerg
  • Dianjurkan untuk membaca label pangan yang dikemas terutama keterangan tentang informasi kandungan zat gizi dan tanggal kadaluarsa sebelum membeli atau mengonsumsi makanan tersebut.
  1. Cuci Tangan dengan Sabun Menggunakan Air Mengalir
  • Kebersihan terjaga secara keseluruhan serta mencegah kuman dan bakteri berpindah dari tangan ke makanan yang akan dikonsumsi .
  • Agar tubuh tidak terkena kuman.
  • Perilaku hidup bersih harus dilakukan atas dasar kesadaran oleh setiap anggota keluarga agar terhindar dari penyaki
  • Sekitar 45% penyakit diare bisa dicegah dengan mencuci tangan.
  1. Lakukan Aktifitas Fisik yang Cukup dan Pertahankan Berat Badan Normal
  • Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang meningkatkan pengeluaran tenaga / energi dan pembakaran energi.
  • Aktivitas fisik dikategorikan cukup apabila seseorang melakukan latihan fisik atau olah raga selama 30 menit setiap hari atau minimal 3-5 hari dalam seminggu.
  • Beberapa aktivitas fisik yang dapat dilakukan antara lain aktivitas fisik sehari-hari seperti berjalan kaki, berkebun, menyapu, mencuci, mengepel, naik turun tangga dan lain-lain.
  • Latihan fisik adalah semua bentuk aktivitas fisik yang dilakukan secara terstruktur dan terencana, dengan tujuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani.
  • Beberapa latihan fisik yang dapat dilakukan seperti berlari, joging, bermain bola, berenang, senam, bersepeda dan lain-lain.

Penelitian Telah Membuktikan Adanya Manfaat Aktivitas Fisik:

  1. Mencegah kematian dini.
  2. Mencegah penyakit tidak menular antara lain penyakit jantung koroner, stroke, kanker, diabetes tipe 2, osteoporosis dan depresi.
  3. Menurunkan risiko penyakit seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol darah tinggi.
  4. Meningkatkan kebugaran fisik dan kekuatan otot.
  5. Meningkatkan kapasitas fungsional (kemampuan melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari).
  6. Mengoptimalkan kesehatan mental dan fungsi kognitif.
  7. Mencegah trauma dan serangan jantung mendadak.

Kesimpulan

  • Diet yang aman dan sehat untuk generasai millenial adalah gizi seimban
  • Gizi seimbang yang dimaksud adalah mengonsumsi makanan yang beranekaragam dan mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral setiap hari dengan porsi, jadwal dan sesuai dengan 10 pesan gizi seimbang.
  • Diet yang optimal tidak bisa ditempuh dengan cara yang instan atau kilat.
  • Kurangi makanan yang digoreng dan lebih banyak konsumsi makanan yang direbus atau dikukus.
  • Pilih makanan yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang pada aplikasi pesan antar makanan.
  • Pesan low sugar atau sedikit gula pada minuman sejenis  boba dan kurangi frekuensi konsumsi minuman seperti boba, dan lain-lain.
https://rsupsoeradji.id/gizi-optimal-untuk-generasi-milenial-ayo-jadi-milenial-sadar-gizi/

Rabu, 02 Desember 2020

 

Nama : Gustia Wulandari

NIM : 1022201010








PHOTOSHOP

Adobe Photoshop, atau biasa disebut Photoshop, adalah perangkat lunak editor citra buatan Adobe Systems yang dikhususkan untuk pengeditan foto/gambar dan pembuatan efek. Perangkat lunak ini banyak digunakan oleh fotografer digital dan perusahaan iklan sehingga dianggap sebagai pemimpin pasar (market leader) untuk perangkat lunak pengolah gambar/foto, dan, bersama Adobe Acrobat, dianggap sebagai produk terbaik yang pernah diproduksi oleh Adobe Systems. Versi kedelapan aplikasi ini disebut dengan nama Photoshop CS (Creative Suite), versi sembilan disebut Adobe Photoshop CS2, versi sepuluh disebut Adobe Photoshop CS3 , versi kesebelas adalah Adobe Photoshop CS4 dan versi yang terakhir (keduabelas) adalah Adobe Photoshop CS5. Photoshop tersedia untuk Microsoft WindowsMac OS X, dan Mac OS; versi 9 ke atas juga dapat digunakan oleh sistem operasi lain seperti Linux dengan bantuan perangkat lunak tertentu seperti CrossOver.

Rabu, 14 Oktober 2020

Teknologi dan Ilmu Gizi

 Nama : Gustia Wulandari

NIM : 1022201010

Fakultas Kesehatan Universitas M.H. Thamrin

Dosen : Irwan Abdullah, S,Kom., MM


Kehidupan manusia yang bermula dari kesederhanaan kini menjadi kehidupan yang bisa dikategorikan sangat modern. Di era sekarang, segala sesuatu dapat diselesaikan dengan cara-cara yang praktis. Hal ini merupakan dampak yang timbul dari hadirnya teknologi.

 Teknologi adalah sesuatu yang bermanfaat untuk mempermudah semua aspek kehidupan manusia. Dunia informasi saat ini seakan tidak bisa terlepas dari teknologi. Penggunaan teknologi oleh masyarakat menjadikan dunia teknologi semakin lama semakin canggih.

 Komunikasi yang dulunya memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya, kini dengan teknologi segalanya menjadi sangat cepat dan seakan tanpa jarak.

 Hal ini disebabkan karena semakin cepatnya akses informasi dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di daerah lain atau bahkan di negara lain, misalnya Amerika Serikat walaupun kita berada di Indonesia.

dan ilmu gizi pun tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari manusia, karna dengan adanya ilmu gizi kita dapat mengontro asupan makanan kita , dapat memilih yang bergizi dan berguna untuk tubuh kita dan yang tidak berguna bahkan ada yang berbahaya.

salah satu contoh yang sedang dikembangkan sekarang adalah :

Aplikasi perencanaan menu makanan berbasis android di pesantren dan kelayakan penggunaannya


Latar Belakang: Dalam penyelenggaraan makanan, salah satu hal penting adalah jumlah makanan dan standar porsi yang dihasilkan karena banyaknya bahan makanan akan berpengaruh terhadap porsi yang dihasilkan. Berkembangnya teknologi akan memengaruhi perkembangan dan perubahan dalam segala bidang. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin melakukan penyusunan menu sesuai kebutuhan berbasis aplikasi android karena android berkembang dengan pesat melebihi sistem operasi lainnya.

Tujuan: Menilai kelayakan aplikasi menu makanan untuk santri di pesantren berbasis android. 

Metode: Penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus dilakukan di enam pesantren di Kabupaten Jember pada tujuh petugas perencana menu makanan. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018 sampai Januari 2019. Penelitian yang dilakukan untuk menilai kelayakan aplikasi android menggunakan beberapa aspek, yaitu kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, pengguna, kepuasan penguna, dan dampak positif. 

Hasil: Aplikasi perencanaan menu makanan berbasis android bisa diterapkan untuk membantu perencanaan menu makanan, memberikan informasi yang mudah dipahami sehingga aplikasi android berguna dalam peningkatan kinerja, pengguna lebih menghemat waktu dan tenaga, mengikuti perkembangan teknologi sehingga aplikasi android mudah diakses dan memberikan dampak positif sehingga membantu petugas perencana menu makanan dalam melakukan pekerjaannya serta dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi para santri. 

Kesimpulan: Aplikasi perencanaan menu berbasis android layak digunakan di pesantren jika dinilai dari kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, pengguna, kepuasan pengguna, dan dampak positif.

Selasa, 06 Oktober 2020

Gizi seimbang

 




Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, prinsip Gizi Seimbang divisualisasi berupa “piramida” Gizi Seimbang. Tidak semua negara menggunakan piramida, tetapi disesuaikan dengan budaya dan pola makan setempat. Misalnya, di Thailand dalam bentuk piramida terbalik sebagai “bendera”, dan di China sebagai “pagoda” dengan tumpukan rantang. Para pakar gizi yang bergabung dalam Yayasan Institut Danone Indonesia (DII) bersama para penulis dari Tabloid Nakita (Kompas-Gramedia), mengadaptasi piramida sesuai dengan budaya Indonesia, dalam bentuk tumpeng dengan nampannya yang untuk selanjutnya akan disebut sebagai “Tumpeng Gizi Seimbang” (TGS).* TGS dirancang untuk membantu setiap orang memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat, sesuai dengan berbagai kebutuhan menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan kesehatan (hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).

  

Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) menggambarkan 4 prinsip Gizi Seimbang (TGS) meragakan 4 prinsip Gizi Seimbang (GS): aneka ragam makanan sesuai kebutuhan, kebersihan, aktivitas fisik dan memantau berat badan ideal. TGS terdiri atas beberapa potongan tumpeng: satu potongan besar, dua potongan sedang, dua potongan kecil, dan di puncak terdapat potongan terkecil. Luasnya potongan TGS menunjukkan porsi makanan yang harus dikonsumsi setiap orang per hari. TGS yang terdiri atas potongan-potongan itu dialasi oleh air putih. Artinya, air putih merupakan bagian terbesar dan zat gizi esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif.

Dalam sehari, kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter (8 gelas). Setelah itu, di atasnya terdapat potongan besar yang merupakan golongan makanan pokok (sumber karbohidrat). Golongan ini dianjurkan dikonsumsi 3—8 porsi. Kemudian di atasnya lagi terdapat golongan sayur dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Keduanya dalam potongan yang berbeda luasnya untuk menekankan pentingnya peran dan porsi setiap golongan. Ukuran potongan sayur dalam PGS sengaja dibuat lebih besar dari buah yang terletak di sebelahnya. Dengan begitu, jumlah sayur yang harus dilahap setiap hari sedikit lebih besar (3-5 porsi) daripada buah (2—3 porsi). Selanjutnya, di lapisan ketiga dari bawah ada golongan protein, seperti daging, telur, ikan, susu dan produk susu (yogurt, mentega, keju, dan lain-lain) di potongan kanan, sedangkan di potongan kiri ada kacang-kacangan serta hasil olahan seperti tahu, tempe, dan oncom.

Terakhir dan menempati puncak TGS makanan dalam potongan yang sangat kecil adalah minyak, gula, dan garam, yang dianjurkan dikonsumsi seperlunya. Pada bagian bawah tumpeng terdapat prinsip Gizi Seimbang lain, yaitu pola hidup aktif dengan berolahraga, menjaga kebersihan dan pantau berat badan. Karena prinsip gizi seimbang didasarkan pada kebutuhan zat gizi yang berbeda menurut kelompok umur, status kesehatan, dan jenis aktivitas, maka satu macam TGS tidak cukup. Diperlukan beberapa macam TGS untuk ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita, remaja, dewasa, dan usia lanjut.


Sejarah Gizi Seimbang

Gizi terjemahan dari bahasa Inggris "Nutrition" dan “nutrition science”. Meskipun belum resmi ditetapkan oleh Lembaga Bahasa Indonesia, istilah Gizi dan Ilmu Gizi telah dipakai oleh Prof.Djuned Pusponegoro, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar ilmu penyakit anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1952. Tahun 1955, Ilmu Gizi resmi menjadi mata kuliah di Fakultas Kedokteran UI, dan tahun 1958 secara resmi dipakai dalam pidato pengukuhan Prof.Poerwo Soedarmo sebagai Guru Besar Ilmu Gizi pertama di Indonesia, di Fakultas Kedokteran UI. Sejak itu sampai sekarang banyak Fakultas Kedokteran, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan, Fakultas Kesehatan Masyarakat telah mendirikan Bagian atau Departemen Ilmu Gizi. Tahun 1965 di Jakarta diresmikan Akademi Gizi dari Departemen Kesehatan, yang sampai sekarang tersebar di hampir semua propinsi di Indonesia sebagai Pendidikan Politeknis Kesehatan Jurusan Gizi . Pengesahan kata Gizi sebagai terjemahan resmi dari Nutrition dan Nutrition Science, diperoleh pada akhir tahun 50an dari Prof DR. Haryati Soebadio seorang dosen, ahli bahasa, dan sebagai direktur Lembaga Bahasa Indonesia Fakultas Sastra UI . Prof.DR.Soebadio, menjelaskan tentang akar bahasa Indonesia kebanyakan dari bahasa Arab dan Sanksekerta. Kata Inggris Nutrition dalam bahasa Arab di sebut GHIZAI, dan dalam bahasa Sanksekerta SVASTAHARENA. Keduanya artinya sama, makanan yang menyehatkan. Atas petunjuk tersebut Prof.Poerwo Soedarmo, ketika itu masih menjabat sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat Kementerian Kesehatan dan Direktur Akademi Gizi Kementerian Kesehatan, bapak gizi Indonesia memilih kata GIZI sebagai terjemahan resmi kata nutrition, yang sejak tahun 1952 kata GIZI itu sudah dipakai dikalangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Sedang kata SVASTAHARENA di pakai dalam lambang organisasi PERSAGI, sampai sekarang.

Ilmu Gizi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari " Proses Makanan sejak masuk mulut sampai dicerna oleh organ-organ pencernakan, dan diolah dalam suatu sistem metabolisme menjadi zat-zat kehidupan (zat gizi dan zat non gizi) dalam darah dan dalam sel-sel tubuh membentuk jaringan tubuh dan organ-organ tubuh dengan fungsinya masing-masing dalam suatu sistem, sehingga menghasilkan pertumbuhan (fisik) dan perkembangan (mental), kecerdasan, dan produktivitas sebagai syarat dicapainya tingkat kehidupan sehat, bugar dan sejahtera."

Ilmu gizi publik adalah ilmu gizi yang diaplikasikan untuk kesejahteraan publik (masyarakat luas) dengan tidak sengaja mengkaitkannya dengan masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga dengan masalah-masalah ekonomi, kemiskinan, pertanian, lingkungan hidup, pendidikan, kesetaraan gender, dan masalah-maslah pembangunan manusia lainnya.

Secara pendek dan populer ilmu gizi sering diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan makanan dengan kesehatan. Sementara itu pada saat yang bersamaan fakultas kedokteran hewan IPB menterjemahkan Animal Nutrition sebagai nutrisi makanan ternak. Dengan demikian nutrisi lebih banyak di pakai untuk makanan ternak sedangkan gizi resmi di pakai di fakultas kedokteran dan semua lembaga gizi.

Dulu kita mengenal pedoman makan berslogan “4 Sehat 5 Sempurna” (4S5S) yang dipopulerkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo,, pada tahun 1950-an. Namun, sejak tahun 1990-an, pedoman tersebut dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi. Hal ini juga sesuai dengan adanya perubahan pedoman “Basic Four” di Amerika Serikat—yang merupakan acuan awal 4S5S pada masa itu—menjadi “Nutrition Guide for Balance Diet”. Di Indonesia, “Nutrition Guide for Balance Diet” diterjemahkan menjadi “ Pedoman Gizi Seimbang” (PGS). Pada konferensi pangan sedunia tahun 1992 di Roma dan Genewa, yang diadakan oleh FAO, dalam rangka menghadapi beban ganda masalah gizi di negara berkembang, antara lain ditetapkan agar semua negara berkembang yang semula menggunakan pedoman sejenis “Basic Four” memperbaiki menjadi “Nutrition Guide for Balance Diet”. Indonesia menerapkan keputusan FAO tersebut dalam kebijakan Repelita V tahun 1995 sebagai PGS dan menjadi bagian dari program perbaikan gizi. Namun, PGS kurang disosialisasikan sehingga terjadi pemahaman yang salah dan masyarakat cenderung tetap menggunakan 4S5S. Baru pada tahun 2009 secara resmi PGS diterima oleh masyarakat, sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 yang menyebutkan secara eksplisit “Gizi Seimbang” dalam program perbaikan gizi. 


Perbedaan Empat Sehat Lima Sempurna dengan Gizi Seimbang

Sesuai dengan prinsip Gizi Seimbang, pola makan berdasarkan "Pedoman Gizi Seimbang" (PGS) tidak dapat berlaku sama untuk setiap orang. Tiap golongan usia, status kesehatan, dan aktivitas fisik, memerlukan PGS yang berbeda sesuai kondisi masing-masing. Hal ini berbeda dengan pola makan berdasarkan slogan "4 sehat 5 sempurna" (4S & 5S) yang berlaku bagi semua orang di atas dua tahun. Tak jelas bagaimana pedoman yang mengelompokkan makanan hanya ke dalam 4 kelompok secara kualitatif itu dapat menjadi acuan untuk memenuhi kebutuhan berbagai golongan masyarakat. Pada saat slogan 4S5S diciptakan tahun 1950-an, diasumsikan bahwa kebiasaan makan masyarakat makin sehat sehingga berbagai masalah kesehatan karena kekurangan dan kelebihan gizi dapat dicegah dan dikurangi. Asumsi ini ternyata tidak terwujud, baik di Indonesia maupun negara-negara lain, termasuk negara asal 4S5S di AS. Oleh karena itu pedoman 4S5S sejak awal tahun 1990-an secara internasional telah digantikan oleh pedoman yang lebih rinci yang disebut PGS dengan alasan sebagai berikut.

Pertama,

  • Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok ini, belum tentu sehat, bergantung apakah porsi dan jenis zat gizinya sesuai dengan kebutuhan. Contoh, jika pola makan kita sebagian besar porsinya terdiri atas sumber karbohidrat (nasi), sedikit sumber protein, sedikit sayur dan buah sebagai sumber vitamin, maka pola makan tersebut tidak dapat dianggap sehat. Sebaliknya, jika pola makan kita terlalu banyak sumber lemak dan protein seperti hidangan yang banyak daging dan minyak atau lemak, tetapi sedikit sayur dan buah, maka pola makan itu tak dapat dianggap sehat.
  • Selain jenis makanan, pola makan berdasarkan PGS menekankan pula proporsi yang berbeda untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. PGS pun memperhatikan aspek kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan kaitannya dengan pola hidup sehat lain.

Kedua,

  • Susu bukan "makanan sempurna" seperti anggapan umum selama ini. Dengan anggapan itu banyak orang, termasuk kalangan pemerintah, menganggap susu merupakan "jawaban" atas masalah gizi. Sebenarnya, susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging.
  • Oleh karena itu di dalam PGS, susu ditempatkan dalam satu kelompok dengan sumber protein hewani lain. Dari segi kualitas protein, telur dalam ilmu gizi dikenal lebih baik dari susu karena daya cerna protein telur lebih tinqggi daripada susu.

Ketiga,

  • Slogan 4S5S yang dipopulerkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia, pada tahun 1950-an dianggap tak lagi sesuai dengan perkembangan iptek gizi, seperti halnya slogan "Basic Four" di Amerika yang merupakan acuan awal 4S5S pada masa itu. "Basic Four" dari AS yang diciptakan tahun 1940-an bertujuan mencegah pola makan orang Amerika yang cenderung banyak lemak, tinggi gula, dan kurang serat. Namun, setelah dievaluasi tahun 1970-an, ternyata slogan tersebut tidak memperbaiki pola makan penduduk Amerika, yang disertai dengan meningkatnya penyakit degeneratif terkait gizi. Sejak itu, slogan "Basic Four" diperbarui dan disempurnakan menjadi "Nutrition Guide for Balance Diet" dengan visual piramida.
  • Di Indonesia "Nutrition Guide for Balance Diet" diterjemahkan menjadi PGS yang juga menggunakan visual piramida. Berbeda dengan Nutrition Guide AS yang berlaku untuk usia di atas 2 tahun, di Indonesia PGS berlaku sejak bayi dengan memasukkan ASI eksklusif sebagai Gizi Seimbang.

Pada konferensi pangan sedunia yang diadakan oleh FAO tahun 1992 di Roma dan Genewa, antara lain ditetapkan agar semua negara berkembang yang semula menggunakan slogan sejenis "Basic Four" memperbaiki menjadi "Nutrition Guide for Balance Diet". Keputusan FAO tersebut diterapkan di Indonesia dalam kebijakan Repelita V tahun 1995 sebagai PGS dan menjadi bagian dari program perbaikan gizi. Namun, PGS kurang disosialisasikan sehingga terjadi pemahaman yang salah dan masyarakat cenderung tetap menggunakan 4S5S. Baru pada tahun 2009 secara resmi PGS diterima masyarakat, sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 yang menyebutkan secara eksplisit "Gizi Seimbang" dalam program perbaikan gizi. 


Gizi buruk pada orang dewasa

 


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), malnutrisi berarti ada kekurangan atau ketidakseimbangan dalam asupan nutrisi seseorang.

Jenis malnutrisi

Malnutrisi ini mencakup dua kelompok besar.

1. Kekurangan gizi, yaitu mencakup wasting (kekurangan tenaga), stunting (pendek), underweight (berat badan rendah).

2. Kelebihan gizi, yaitu berupa kelebihan pasokan nutrisi yang dapat menyebabkan obesitas, keracunan vitamin, dll.

Penyebab Malnutrisi yaitu:

- Kurangnya nafsu makan

- Gangguan pencernaan

- Peningkatan permintaan energi tubuh

- Kondisi kesehatan mental seperti skizofrenia atau depresi yang mempengaruhi suasana hati dan meningkatkan keinginan untuk makan

- Mengidap penyakit tertentu seperti penyakit crohn atau kolitis ulseratif, yang mengganggu kemampuan tubuh untuk mencerna makanan atau menyerap nutrisi

- Penyebab lain malnutrisi dapat berupa anoreksia dan gangguan makan lainnya

- Alkoholisme

- Menyusui.

Tanda dan gejala malnutrisi yaitu:

- Hilangnya minat pada makanan atau minuman

- Rasa tidak nyaman dan lelah

- Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi

- Merasa dingin sepanjang waktu

- Hilangnya jaringan tubuh, massa otot, dan kehilangan lemak

- Waktu penyembuhan yang lebih lama untuk luka

- Lebih sering sakit dan memerlukan waktu untuk pulih

- Mudah lelah dan mudah tersinggung.


Dampak malnutrisi pada orang dewasa

Orang dewasa yang lebih tua dengan gizi buruk dapat memiliki banyak masalah kesehatan seperti kehilangan berat badan yang tidak disengaja, mengalami kelemahan otot, kelelahan, depresi dan anemia.

Karena masalah kesehatan ini, orang dewasa yang kurang gizi baiknya mengunjungi dokter gizi untuk berkonsultasi.

Gizi buruk pada anak

 

Apa itu gizi buruk pada anak?

Gizi buruk adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berat dan tinggi badan balita  jauh di bawah rata-rata.Maka itu, untuk mengetahui status gizi yang satu ini, indikator yang digunakan adalah grafik berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).

Selain berat dan tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA) juga masuk ke dalam pemeriksaan klinis gizi buruk pada anak dan balita.Kondisi gizi buruk pada anak tidak terjadi secara instan atau singkat.Artinya, anak yang masuk ke dalam kategori gizi buruk sudah mengalami kekurangan berbagai zat gizi dalam jangka waktu yang sangat lama.

Jika diukur menggunakan Grafik Pertumbuhan Anak (GPA) yang mengacu pada WHO dengan berbagai indikator pendukung, anak dengan kondisi gizi buruk memiliki kategori sendiri.

Pada anak, bisa dikatakan mengalami gizi buruk ketika hasil pengukuran indikator BB/TB untuk status gizinya kurang dari 70 persen nilai median.

Mudahnya, nilai cut off z score berada nilai pada kurang dari -3 SD. Gizi buruk paling sering dialami oleh anak balita ketika tubuhnya kekurangan energi protein (KEP) kronis.

Gejala umum gizi buruk pada anak

Menurut Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk dari Kementerian Kesehatan RI, berikut gejala gizi buruk yang umum pada anak-anak:

Gizi buruk tanpa komplikasi

Gizi buruk pada anak tanpa komplikasi memiliki berbagai gejala seperti:

    • Terlihat sangat kurus
    • Mengalami edema atau pembengkakan, paling tidak pada kedua punggung tangan atau pun kaki
    • Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD
    • LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan
    • Nafsu makan baik
    • Tidak disertai dengan komplikasi medis

Gizi buruk dengan komplikasi

Sementara itu, gizi buruk pada anak dengan komplikasi ditandai dengan berbagai gejala seperti:

    • Terlihat sangat kurus.
    • Edema atau pembengkakan pada seluruh tubuh.
    • Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD
    • LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan
    • Memiliki satu atau lebih komplikasi medis seperti anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi, dan penurunan kesadaran.

Apa saja masalah gizi buruk pada anak?

Secara klinis, permasalahan gizi buruk pada anak balita terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

1. Marasmus

Sumber: Healthline

Marasmus adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya asupan energi harian.

Padahal seharusnya, penting untuk mencukupi kebutuhan energi setiap harinya guna mendukung semua fungsi organ, sel, serta jaringan tubuh.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sebenarnya bisa mengalami marasmus.

Namun, kondisi ini paling sering dialami oleh usia anak-anak yang biasanya terjadi di negara-negara berkembang.

Bahkan menurut data dari UNICEF, kekurangan asupan zat gizi merupakan salah satu dalang penyebab kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Kasus ini bisa memakan korban hingga mencapai angka sekitar 3 juta setiap tahunnya.

2. Kwashiorkor

 Sumber: Sumber: Freewaremini

Kwashiorkor adalah kondisi kekurangan gizi yang penyebab utamanya karena rendahnya asupan protein. Berbeda dengan marasmus yang yang mengalami penurunan berat badan, kwashiorkor tidak demikian.

Anak gizi buruk karena kwashiorkor memiliki ciri-ciri tubuh membengkak karena mengalami penumpukan cairan (edema).

Itu sebabnya, meski telah kehilangan massa otot dan lemak tubuh, anak dengan khwarshiorkor tidak mengalami penurunan berat badan yang drastis.

3. Marasmik-kwashiorkor

Sumber: Psychology Mania

Sesuai dengan namanya, marasmik-kwashiorkor adalah bentuk lain dari gizi buruk pada anak balita yang menggabungan kondisi dan gejala antara marasmus dan kwashiorkor.

Kondisi gizi buruk ini ditentukan dengan indikator berat badan balita berdasarkan usia (BB/U) kurang dari 60 persen baku median WHO.

Anak yang mengalami marasmik-kwashiorkor memiliki beberapa ciri utama, seperti:

  • Bertubuh sangat kurus
  • Menunjukkan tanda-tanda tubuh kurus (wasting) di beberapa bagian tubuh, misalnya hilangnya jaringan dan massa otot, serta tulang yang langsung kentara pada kulit seolah tidak terlapisi oleh daging.
  • Mengalami penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh.

Namun, tidak seperti kwashiorkor yang mengalami pembengkakan pada perut, adanya edema pada anak dengan marasmus dan kwashiorkor sekaligus, biasanya tidak terlalu mencolok.

Bukan hanya itu saja, berat badan anak yang mengamai marasmus dan kwashiorkor sekaligus biasanya berada di bawah 60 persen dari berat normal di usia tersebut.

Dampak gizi buruk pada anak

gizi buruk anak

Anak-anak yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup berpotensi mengalami komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang, seperti:

1. Gangguan kesehatan mental dan emosional

Menurut Children’s Defense Fund, anak-anak yang kekurangan asupan nutrisi berisiko menderita gangguan psikologis.

Sebagai contoh, rasa cemas berlebih maupun ketidakmampuan belajar, sehingga memerlukan konseling kesehatan mental.

Sebuah studi “India Journal of Psychiatry” tahun 2008 mencatat dampak dari gizi buruk pada anak, yaitu:

  • Kekurangan zat besi menyebabkan gangguan hiperaktif
  • Kekurangan yodium menghambat pertumbuhan
  • Kebiasaan melewatkan waktu makan atau kecenderungan pada makanan mengandung gula juga berkaitan dengan depresi pada anak.

Gizi buruk juga membawa dampak yang buruk bagi perkembangan dan kemampuan adaptasi anak pada situasi tertentu.

2. Tingkat IQ yang rendah

Menurut data yang dilansir pada National Health and Nutrition Examination Survey, anak-anak dengan gizi buruk cenderung melewatkan pelajaran di kelas sehingga anak tidak naik kelas.

Anak menjadi lemas, lesu, dan tidak dapat bergerak aktif karena kekurangan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya.

Hal ini didukung oleh data World Bank yang juga mencatat hubungan antara gizi buruk dan tingkat IQ yang rendah.

Anak-anak ini juga mungkin mengalami kesulitan mencari teman karena masalah perilaku mereka.

Gagalnya anak untuk mencapai aspek akademis dan sosial akibat gizi buruk tentu saja memiliki dampak negatif yang berkelanjutan sepanjang hidupnya apabila tidak segera disembuhkan.

3. Penyakit infeksi

Dampak gizi buruk lainnya yang kerap kali terjadi adalah risiko penyakit infeksi.

Ya, anak dengan gizi yang kurang akan sangat rentan mengalami penyakit infeksi, seperti gangguan pencernaan anak.

Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tak kuat akibat nutrisi tubuh yang tidak terpenuhi.

Ada banyak vitamin dan mineral yang sangat memengaruhi kerja sistem kekebalan tubuh, misalnya vitamin C, zat besi, dan zink.

Bila kadar nutrisi tersebut tidak tercukupi, maka sistem kekebalan tubuhnya juga buruk.

Belum lagi jika ia kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat dan protein yang merupakan sumber energi dan pembangun sel-sel tubuh.

Kekurangan nutrisi tersebut akan membuat fungsi tubuhnya terganggu.

4. Anak pendek dan tidak tumbuh optimal

Pertumbuhan dan perkembangan si kecil yang terhambat adalah dampak gizi buruk pada anak.

Di masa pertumbuhan, si kecil sangat memerlukan zat protein yang diandalkan untuk membangun sel-sel tubuh dan karbohidrat sebagai sumber energi utama tubuh.

Bila tidak ada protein dan zat nutrisi lainnya, bukan tidak mungkin pertumbuhan si kecil terhambat bahkan berhenti sebelum waktunya.

Maka itu penting bagi Anda untuk terus memantau kesehatan sang buah hati, apalagi jika ia masih dalam usia di bawah lima tahun.

Lewat mengetahui status gizinya, Anda juga akan mengetahui apakah perkembangan si kecil normal atau itu. Untuk itu, sebaiknya selalu periksakan anak ke dokter dengan rutin.

Panduan penanganan gizi buruk pada anak

gizi buruk remaja

Sesuai dengan penatalaksanaannya, Kementerian Kesehatan RI membagi penanganan gizi buruk pada anak dibagi atas 3 fase.

1. Fase stabilisasi

Fase stabilisasi adalah keadaan ketika kondisi klinis dan metabolisme anak belum sepenuhnya stabil.

Dibutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk memulihkannya, atau bahkan bisa lebih tergantung dari kondisi kesehatan anak.

Tujuan dari fase stabilisasi yakni untuk memulihkan fungsi organ-organ yang terganggu serta pencernaan anak agar kembali normal.

Dalam fase ini, anak akan diberikan formula khusus berupa F 75 atau modifikasinya, dengan rincian:

  • Susu skim bubuk (25 gr)
  • Gula pasir (100 gr)
  • Minyak goreng (30 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml

Fase stabilisasi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Pemberian susu formula sedikit tapi sering

Pemberian formula khusus dilakukan sedikit demi sedikit tapi dalam frekuensi yang sering.

Cara ini bisa membantu mencegah kadar gula darah rendah (hipoglikemia) serta tidak membebankan saluran pencernaan, hati, dan ginjal.

Pemberian susu formula setiap hari

Pemberian formula khusus dilakukan selama 24 jam penuh. Jika dilakukan setiap 2 jam sekali, berarti ada 12 kali pemberian.

Jika dilakukan setiap 3 jam sekali, berarti ada 8 kali pemberian.

ASI diberikan setelah susu formula khusus

Bila anak bisa menghabiskan porsi yang diberikan, pemberian formula khusus bisa dilakukan setiap 4 jam sekali. Otomatis ada 6 kali pemberian makanan.

Jika anak masih menyusui ASI, pemberian ASI bisa dilakukan setelah anak mendapatkan formula khusus.

Bagi orangtua, sebaiknya perhatikan aturan pemberian formula seperti:

  • Lebih baik gunakan cangkir dan sendok daripada botol susu, meskipun anak masih bayi.
  • Gunakan alat bantu pipet tetes untuk anak dengan kondisi sangat lemah.

2. Fase transisi

Fase transisi adalah masa ketika perubahan pemberian makanan tidak menimbulkan masalah bagi kondisi anak.

Fase transisi biasanya berlangsung selama 3-7 hari dengan pemberian susu formula khusus berupa F 100 atau modifikasinya.

Kandungan di dalam susu formula F 100 meliputi:

  • Susu skim bubuk (85 gr)1wQ
  • Gula pasir (50 gr)
  • Minyak goreng (60 gr)
  • Larutan elektrolit (20 ml)
  • Tambahan air sampai dengan 1000 ml

Fase transisi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Pemberian formula khusus dengan frekuensi sering dan porsi kecil. Paling tidak setiap 4 jam sekali.
  • Jumlah volume yang diberikan pada 2 hari pertama (48 jam) tetap menggunakan F 75.
  • ASI tetap diberikan setelah anak menghabiskan porsi formulanya.
  • Jika volume pemberian formula khusus tersebut telah tercapai, tandanya anak sudah siap untuk masuk ke fase rehabilitasi.

3. Fase rehabilitasi

Fase rehabilitasi adalah masa ketika nafsu makan anak sudah kembali normal dan sudah bisa diberikan makanan agak padat melalui mulut atau oral.

Akan tetapi, bila anak belum sepenuhnya bisa makan secara oral, pemberiannya bisa dilakukan melalui selang makanan (NGT).

Fase ini umumnya berlangsung selama 2-4 minggu sampai indiktor status gizin BB/TB-nya mencapai -2 SD dengan memberikan F 100.

Dalam fase transisi, pemberian F 100 bisa dilakukan dengan menambah volumenya setiap hari. Hal ini dilakukan sampai saat anak tidak mampu lagi menghabiskan porsinya.

F 100 merupakan energi total yang dibutuhkan anak untuk tumbuh serta berguna dalam pemberian makanan di tahap selanjutnya.

Secara bertahap, nantinya porsi menu makanan anak yang teksturnya padat bisa mulai ditambah dengan mengurangi pemberian F 100.

Panduan menangani anak dengan gizi buruk di rumah

camilan untuk gizi buruk

Setelah menjalankan pengobatan yang disarankan, anak dapat dikatakan sembuh bila BB/TB atau BB/PB sudah lebih dari -2 SD.

Meski begitu, aturan pemberian makan yang tepat tetap masih harus dijalankan.

Bagi orangtua, bisa menerapkan jadwal makan anak seperti:

  • Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering sesuai dengan usia anak.
  • Rutin membawa anak untuk kontrol tepat waktu. Pada bulan pertama sebanyak 1 kali seminggu, bulan kedua sebanyak 1 kali setiap 2 minggu, dan bulan ketiga sampai keempat sebanyak 1 kali per bulan.

Selain itu, orangtua juga bisa membuat contoh resep berikut untuk anak:

Makanan formula kacang hijau

Bahan-bahan:

  • Tepung beras 25 gr
  • Kacang hijau atau kacang merah 60 gr
  • Gula 15 gr
  • Minyak goreng 10 gr
  • Garam beryodium dan air secukupnya

Cara membuat:

  1. Rebus kacang hijau dengan 4 gelas air matang selama 30 menit.
  2. Setelah matang, hancurkan menggunakan saringan kawat.
  3. Campurkan tepung beras, gula, minyak, garam, dan air dingin sebanyak 50 cc (1/4 gelas).
  4. Masukkan ke dalam air rebusan kacang hijau yang sudah dihancurkan, lalu aduk sampai matang di atas api kecil.

Makanan formula tahu dan ayam

Bahan-bahan:

  • Tahu 55 gr
  • Tepung beras 40 gr
  • Gula 20 gr
  • Minyak goreng 15 gr
  • Daging ayam 70 gr
  • Garam beryodium dan air secukupnya

Cara membuat:

  1. Rebus tahu dan ayam dalam 500 cc air hingga matang, selama sekitar 10 menit.
  2. Setelah matang, hancurkan dengan menggunakan saringan kawat atau diulek.
  3. Masukkan tepung beras, gula, minyak, dan garam, dan lanjutkan memasak sembari di aduk di atas api kecil selama 5 menit.

Untuk mencegah gizi buruk, selalu konsultasikan kesehatan di kecil kepada dokter anak secara rutin.

 

 


Perbedaan stunting dan gizi buruk

 


 Stunting menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.


Lantas apa perbedaan antara stunting dan gizi buruk? Berikut penjelasannya.

 1. Ciri-ciri Anak dengan gizi buruk biasanya memiliki ciri-ciri kulit yang kering, lemak di bawah kulit berkurang, dan otot mengecil. Jika telah mencapai tahap lanjut, ada kemungkinan perut anak menjadi buncit. Sementara itu, ciri anak yang mengalami stunting adalah pertumbuhannya yang melambat. Hal itu dapat dilihat dari tubuh yang lebih pendek dan tampak lebih muda dibanding teman-teman seusianya. Pubertas pada anak dengan kasus stunting pun kerap terlambat.

 2. Faktor penyebab Pada dasarnya, gizi buruk disebabkan oleh kekurangan asupan gizi dalam waktu yang relatif singkat ketimbang stunting. Kekurangan asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu membuat berat badan anak turun dan memicu timbulnya gizi buruk.
Sedangkan anak dengan kasus stunting, umumnya diakibatkan kekurangan gizi dalam jangka panjang, terutama di masa 1.000 hari pertama kehidupan anak. Di samping itu, ada faktor lain seperti tingginya frekuensi sakit anak dan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang tidak tertangani dengan baik.

 3. Dampak Anak dengan gizi buruk akan mudah mengalami infeksi karena kekebalan tubuhnya rendah. Selain itu, anak dengan gizi buruk juga memiliki intelligence quotient (IQ) atau tingkat kecerdasan rendah. Pada jangka panjang, gizi buruk dapat mengakibatkan pertumbuhan anak berhenti sebelum waktunya. Lebih jauh lagi, gizi buruk dalam jangka panjang akan menyebabkan anak kurus (wasting) dan stunting.Sementara itu, stunting pada anak akan berdampak pada gangguan metabolisme, rendahnya kekebalan tubuh, dan ukuran fisik tubuh yang tidak optimal. stunting dalam jangka panjang dapat menyebabkan anak gagal tumbuh. Selain itu, kemampuan kognitif dan motorik anak pun akan terhambat.


Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Sementara itu, stunting pada anak akan berdampak pada gangguan metabolisme, rendahnya kekebalan tubuh, dan ukuran fisik tubuh yang tidak optimal.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Cara mencegah :

 Cegah gizi buruk dan stunting dengan memperhatikan asupan nutrisi anak sejak dini. Selain itu, kecukupan nutrisi ibu hamil dan saat menyusui pun perlu diperhatikan. Salah satu upaya yang penting untuk dilakukan adalah dengan memberi air susu ibu (ASI) eksklusif hingga anak berusia enam bulan. Setelah anak mencapai usia enam bulan, Anda bisa mulai mengenalkan makanan pendamping ASI (MPASI). Anda pun perlu terus memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun.

Menginjak usia satu tahun, anak bisa mulai menikmati makanan keluarga. Pada masa ini, upayakan untuk memberikan makanan sehat dan seimbang yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Di samping kecukupan nutrisi, kebersihan diri dan lingkungan pun perlu dijaga untuk mencegah gizi buruk dan stunting. Terapkan pola hidup bersih dan sehat ( PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun dan menjaga kebersihan sanitasi lingkungan rumah. Terakhir, pantau terus tumbuh kembang anak untuk mencegah gizi buruk dan stunting sejak dini. Patuhi juga jadwal imunisasi agar anak terhindar dari penyakit berat.



menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L




menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
menjadi salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ini Perbedaan Stunting dan Gizi Buruk yang Wajib Diketahui", Klik untuk baca: https://lifestyle.kompas.com/read/2020/07/17/102016820/ini-perbedaan-stunting-dan-gizi-buruk-yang-wajib-diketahui?page=all.
Penulis : Aditya Mulyawan
Editor : Sri Noviyanti

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

  Gizi Optimal untuk Generasi Milenial – Ayo Jadi Milenial Sadar Gizi oleh Siti Nurrochmah Bayuningsih, S.Gz Karakter Generasi Milenial : ...