Kehidupan manusia yang bermula dari kesederhanaan kini menjadi kehidupan
yang bisa dikategorikan sangat modern. Di era sekarang, segala sesuatu
dapat diselesaikan dengan cara-cara yang praktis. Hal ini merupakan
dampak yang timbul dari hadirnya teknologi.
Teknologi adalah sesuatu yang bermanfaat untuk mempermudah semua aspek
kehidupan manusia. Dunia informasi saat ini seakan tidak bisa terlepas
dari teknologi. Penggunaan teknologi oleh masyarakat menjadikan dunia
teknologi semakin lama semakin canggih.
Komunikasi yang dulunya
memerlukan waktu yang lama dalam penyampaiannya, kini dengan teknologi
segalanya menjadi sangat cepat dan seakan tanpa jarak.
Hal ini
disebabkan karena semakin cepatnya akses informasi dalam kehidupan
sehari-hari. Kita bisa mengetahui peristiwa yang sedang terjadi di
daerah lain atau bahkan di negara lain, misalnya Amerika Serikat
walaupun kita berada di Indonesia.
dan ilmu gizi pun tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari manusia, karna dengan adanya ilmu gizi kita dapat mengontro asupan makanan kita , dapat memilih yang bergizi dan berguna untuk tubuh kita dan yang tidak berguna bahkan ada yang berbahaya.
salah satu contoh yang sedang dikembangkan sekarang adalah :
Aplikasi perencanaan menu makanan berbasis android di pesantren dan kelayakan penggunaannya
Latar Belakang: Dalam penyelenggaraan makanan,
salah satu hal penting adalah jumlah makanan dan standar porsi yang
dihasilkan karena banyaknya bahan makanan akan berpengaruh terhadap
porsi yang dihasilkan. Berkembangnya teknologi akan memengaruhi
perkembangan dan perubahan dalam segala bidang. Berdasarkan hal
tersebut, peneliti ingin melakukan penyusunan menu sesuai kebutuhan
berbasis aplikasi android karena android berkembang dengan pesat
melebihi sistem operasi lainnya.
Tujuan: Menilai kelayakan aplikasi menu makanan untuk santri di pesantren berbasis android.
Metode: Penelitian
menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis pendekatan studi kasus
dilakukan di enam pesantren di Kabupaten Jember pada tujuh petugas
perencana menu makanan. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2018
sampai Januari 2019. Penelitian yang dilakukan untuk menilai kelayakan
aplikasi android menggunakan beberapa aspek, yaitu kualitas sistem,
kualitas informasi, kualitas layanan, pengguna, kepuasan penguna, dan
dampak positif.
Hasil: Aplikasi perencanaan menu
makanan berbasis android bisa diterapkan untuk membantu perencanaan menu
makanan, memberikan informasi yang mudah dipahami sehingga aplikasi
android berguna dalam peningkatan kinerja, pengguna lebih menghemat
waktu dan tenaga, mengikuti perkembangan teknologi sehingga aplikasi
android mudah diakses dan memberikan dampak positif sehingga membantu
petugas perencana menu makanan dalam melakukan pekerjaannya serta dapat
memenuhi kebutuhan gizi bagi para santri.
Kesimpulan: Aplikasi
perencanaan menu berbasis android layak digunakan di pesantren jika
dinilai dari kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan,
pengguna, kepuasan pengguna, dan dampak positif.
Gizi seimbangadalah susunan makanan sehari–hari yang mengandung zat-zat gizi dalam
jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memerhatikan
prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik,
kebersihan, dan berat badan (BB) ideal.
Di Amerika Serikat dan beberapa negara lain, prinsip Gizi
Seimbang divisualisasi berupa “piramida” Gizi Seimbang. Tidak semua
negara menggunakan piramida, tetapi disesuaikan dengan budaya dan pola
makan setempat. Misalnya, di Thailand dalam bentuk piramida terbalik
sebagai “bendera”, dan di China sebagai “pagoda” dengan tumpukan
rantang. Para pakar gizi yang bergabung dalam Yayasan Institut Danone
Indonesia (DII) bersama para penulis dari Tabloid Nakita
(Kompas-Gramedia), mengadaptasi piramida sesuai dengan budaya Indonesia,
dalam bentuk tumpeng dengan nampannya yang untuk selanjutnya akan
disebut sebagai “Tumpeng Gizi Seimbang” (TGS).* TGS dirancang untuk
membantu setiap orang memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang
tepat, sesuai dengan berbagai kebutuhan menurut usia (bayi, balita,
remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan kesehatan (hamil,
menyusui, aktivitas fisik, sakit).
Tumpeng Gizi Seimbang (TGS) menggambarkan 4 prinsip Gizi Seimbang (TGS) meragakan 4 prinsip Gizi Seimbang (GS): aneka ragam makanan sesuai
kebutuhan, kebersihan, aktivitas fisik dan memantau berat badan ideal.
TGS terdiri atas beberapa potongan tumpeng: satu potongan besar, dua
potongan sedang, dua potongan kecil, dan di puncak terdapat potongan
terkecil. Luasnya potongan TGS menunjukkan porsi makanan yang harus
dikonsumsi setiap orang per hari. TGS yang terdiri atas
potongan-potongan itu dialasi oleh air putih. Artinya, air putih
merupakan bagian terbesar dan zat gizi esensial bagi kehidupan untuk
hidup sehat dan aktif.
Dalam sehari, kebutuhan air putih untuk tubuh minimal 2 liter (8
gelas). Setelah itu, di atasnya terdapat potongan besar yang merupakan
golongan makanan pokok (sumber karbohidrat). Golongan ini dianjurkan
dikonsumsi 3—8 porsi. Kemudian di atasnya lagi terdapat golongan sayur
dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral. Keduanya dalam potongan
yang berbeda luasnya untuk menekankan pentingnya peran dan porsi setiap
golongan. Ukuran potongan sayur dalam PGS sengaja dibuat lebih besar
dari buah yang terletak di sebelahnya. Dengan begitu, jumlah sayur yang
harus dilahap setiap hari sedikit lebih besar (3-5 porsi) daripada buah
(2—3 porsi). Selanjutnya, di lapisan ketiga dari bawah ada golongan
protein, seperti daging, telur, ikan, susu dan produk susu (yogurt,
mentega, keju, dan lain-lain) di potongan kanan, sedangkan di potongan
kiri ada kacang-kacangan serta hasil olahan seperti tahu, tempe, dan
oncom.
Terakhir dan menempati puncak TGS makanan dalam potongan yang
sangat kecil adalah minyak, gula, dan garam, yang dianjurkan dikonsumsi
seperlunya. Pada bagian bawah tumpeng terdapat prinsip Gizi Seimbang
lain, yaitu pola hidup aktif dengan berolahraga, menjaga kebersihan dan
pantau berat badan. Karena prinsip gizi seimbang didasarkan pada
kebutuhan zat gizi yang berbeda menurut kelompok umur, status kesehatan,
dan jenis aktivitas, maka satu macam TGS tidak cukup. Diperlukan
beberapa macam TGS untuk ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita,
remaja, dewasa, dan usia lanjut.
Sejarah Gizi Seimbang
Gizi terjemahan dari bahasa Inggris "Nutrition"
dan “nutrition science”. Meskipun belum resmi ditetapkan oleh Lembaga
Bahasa Indonesia, istilah Gizi dan Ilmu Gizi telah dipakai oleh
Prof.Djuned Pusponegoro, dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar
ilmu penyakit anak di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1952.
Tahun 1955, Ilmu Gizi resmi menjadi mata kuliah di Fakultas Kedokteran
UI, dan tahun 1958 secara resmi dipakai dalam pidato pengukuhan
Prof.Poerwo Soedarmo sebagai Guru Besar Ilmu Gizi pertama di Indonesia, di Fakultas
Kedokteran UI. Sejak itu sampai sekarang banyak Fakultas Kedokteran,
Fakultas Pertanian, Fakultas Teknologi Pangan, Fakultas Kesehatan
Masyarakat telah mendirikan Bagian atau Departemen Ilmu Gizi. Tahun 1965
di Jakarta diresmikan Akademi Gizi dari Departemen Kesehatan, yang
sampai sekarang tersebar di hampir semua propinsi di Indonesia sebagai
Pendidikan Politeknis Kesehatan Jurusan Gizi . Pengesahan kata Gizi
sebagai terjemahan resmi dari Nutrition dan Nutrition Science,
diperoleh pada akhir tahun 50an dari Prof DR. Haryati Soebadio seorang
dosen, ahli bahasa, dan sebagai direktur Lembaga Bahasa Indonesia
Fakultas Sastra UI . Prof.DR.Soebadio, menjelaskan tentang akar bahasa
Indonesia kebanyakan dari bahasa Arab dan Sanksekerta. Kata Inggris
Nutrition dalam bahasa Arab di sebut GHIZAI, dan dalam bahasa
Sanksekerta SVASTAHARENA. Keduanya artinya sama, makanan yang
menyehatkan. Atas petunjuk tersebut Prof.Poerwo Soedarmo, ketika itu
masih menjabat sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat Kementerian
Kesehatan dan Direktur Akademi Gizi Kementerian Kesehatan, bapak gizi
Indonesia memilih kata GIZI sebagai terjemahan resmi kata nutrition,
yang sejak tahun 1952 kata GIZI itu sudah dipakai dikalangan ilmu
kedokteran dan kesehatan masyarakat. Sedang kata SVASTAHARENA di pakai
dalam lambang organisasi PERSAGI, sampai sekarang.
Ilmu Gizi dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari "
Proses Makanan sejak masuk mulut sampai dicerna oleh organ-organ
pencernakan, dan diolah dalam suatu sistem metabolisme menjadi zat-zat
kehidupan (zat gizi dan zat non gizi) dalam darah dan dalam sel-sel
tubuh membentuk jaringan tubuh dan organ-organ tubuh dengan fungsinya
masing-masing dalam suatu sistem, sehingga menghasilkan pertumbuhan
(fisik) dan perkembangan (mental), kecerdasan, dan produktivitas sebagai
syarat dicapainya tingkat kehidupan sehat, bugar dan sejahtera."
Ilmu gizi publik adalah ilmu gizi yang diaplikasikan untuk
kesejahteraan publik (masyarakat luas) dengan tidak sengaja
mengkaitkannya dengan masalah kesehatan masyarakat, tetapi juga dengan
masalah-masalah ekonomi, kemiskinan, pertanian, lingkungan hidup,
pendidikan, kesetaraan gender, dan masalah-maslah pembangunan manusia
lainnya.
Secara pendek dan populer ilmu gizi sering diartikan sebagai ilmu
yang mempelajari hubungan makanan dengan kesehatan.
Sementara itu pada saat yang bersamaan fakultas kedokteran hewan IPB
menterjemahkan Animal Nutrition sebagai nutrisi makanan ternak. Dengan
demikian nutrisi lebih banyak di pakai untuk makanan ternak sedangkan
gizi resmi di pakai di fakultas kedokteran dan semua lembaga gizi.
Dulu kita mengenal pedoman makan berslogan “4 Sehat 5 Sempurna”
(4S5S) yang dipopulerkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo,, pada tahun
1950-an. Namun, sejak tahun 1990-an, pedoman tersebut dianggap tak lagi
sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi gizi. Hal ini
juga sesuai dengan adanya perubahan pedoman “Basic Four” di Amerika
Serikat—yang merupakan acuan awal 4S5S pada masa itu—menjadi “Nutrition
Guide for Balance Diet”. Di Indonesia, “Nutrition Guide for Balance
Diet” diterjemahkan menjadi “ Pedoman Gizi Seimbang” (PGS).
Pada konferensi pangan sedunia tahun 1992 di Roma dan Genewa, yang
diadakan oleh FAO, dalam rangka menghadapi beban ganda masalah gizi di
negara berkembang, antara lain ditetapkan agar semua negara berkembang
yang semula menggunakan pedoman sejenis “Basic Four” memperbaiki menjadi
“Nutrition Guide for Balance Diet”. Indonesia menerapkan keputusan FAO
tersebut dalam kebijakan Repelita V tahun 1995 sebagai PGS dan menjadi
bagian dari program perbaikan gizi. Namun, PGS kurang disosialisasikan
sehingga terjadi pemahaman yang salah dan masyarakat cenderung tetap
menggunakan 4S5S. Baru pada tahun 2009 secara resmi PGS diterima oleh
masyarakat, sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 yang
menyebutkan secara eksplisit “Gizi Seimbang” dalam program perbaikan
gizi.
Perbedaan Empat Sehat Lima Sempurna dengan Gizi Seimbang
Sesuai
dengan prinsip Gizi Seimbang, pola makan berdasarkan "Pedoman Gizi
Seimbang" (PGS) tidak dapat berlaku sama untuk setiap orang. Tiap
golongan usia, status kesehatan, dan aktivitas fisik, memerlukan PGS
yang berbeda sesuai kondisi masing-masing. Hal ini berbeda dengan pola
makan berdasarkan slogan "4 sehat 5 sempurna" (4S & 5S) yang berlaku
bagi semua orang di atas dua tahun.
Tak jelas bagaimana pedoman yang mengelompokkan makanan hanya ke dalam 4
kelompok secara kualitatif itu dapat menjadi acuan untuk memenuhi
kebutuhan berbagai golongan masyarakat. Pada saat slogan 4S5S diciptakan
tahun 1950-an, diasumsikan bahwa kebiasaan makan masyarakat makin sehat
sehingga berbagai masalah kesehatan karena kekurangan dan kelebihan
gizi dapat dicegah dan dikurangi. Asumsi ini ternyata tidak terwujud,
baik di Indonesia maupun negara-negara lain, termasuk negara asal 4S5S
di AS. Oleh karena itu pedoman 4S5S sejak awal tahun 1990-an secara
internasional telah digantikan oleh pedoman yang lebih rinci yang
disebut PGS dengan alasan sebagai berikut.
Pertama,
Susunan makanan yang terdiri atas 4 kelompok ini, belum tentu
sehat, bergantung apakah porsi dan jenis zat gizinya sesuai dengan
kebutuhan. Contoh, jika pola makan kita sebagian besar porsinya terdiri
atas sumber karbohidrat (nasi), sedikit sumber protein, sedikit sayur
dan buah sebagai sumber vitamin, maka pola makan tersebut tidak dapat
dianggap sehat. Sebaliknya, jika pola makan kita terlalu banyak sumber
lemak dan protein seperti hidangan yang banyak daging dan minyak atau
lemak, tetapi sedikit sayur dan buah, maka pola makan itu tak dapat
dianggap sehat.
Selain jenis makanan, pola makan berdasarkan PGS menekankan pula
proporsi yang berbeda untuk setiap kelompok yang disesuaikan atau
diseimbangkan dengan kebutuhan tubuh. PGS pun memperhatikan aspek
kebersihan makanan, aktivitas fisik, dan kaitannya dengan pola hidup
sehat lain.
Kedua,
Susu bukan "makanan sempurna" seperti anggapan umum selama ini.
Dengan anggapan itu banyak orang, termasuk kalangan pemerintah,
menganggap susu merupakan "jawaban" atas masalah gizi. Sebenarnya, susu adalah sumber protein hewani yang juga terdapat pada telur, ikan dan daging.
Oleh karena itu di dalam PGS, susu ditempatkan dalam satu
kelompok dengan sumber protein hewani lain. Dari segi kualitas protein,
telur dalam ilmu gizi dikenal lebih baik dari susu karena daya cerna
protein telur lebih tinqggi daripada susu.
Ketiga,
Slogan 4S5S yang dipopulerkan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, Bapak
Gizi Indonesia, pada tahun 1950-an dianggap tak lagi sesuai dengan
perkembangan iptek gizi, seperti halnya slogan "Basic Four" di Amerika
yang merupakan acuan awal 4S5S pada masa itu. "Basic Four" dari AS yang
diciptakan tahun 1940-an bertujuan mencegah pola makan orang Amerika
yang cenderung banyak lemak, tinggi gula, dan kurang serat. Namun,
setelah dievaluasi tahun 1970-an, ternyata slogan tersebut tidak
memperbaiki pola makan penduduk Amerika, yang disertai dengan
meningkatnya penyakit degeneratif terkait gizi. Sejak itu, slogan "Basic
Four" diperbarui dan disempurnakan menjadi "Nutrition Guide for Balance
Diet" dengan visual piramida.
Di Indonesia "Nutrition Guide for Balance Diet" diterjemahkan
menjadi PGS yang juga menggunakan visual piramida. Berbeda dengan
Nutrition Guide AS yang berlaku untuk usia di atas 2 tahun, di Indonesia
PGS berlaku sejak bayi dengan memasukkan ASI eksklusif sebagai Gizi
Seimbang.
Pada konferensi pangan sedunia yang diadakan oleh FAO
tahun 1992 di Roma dan Genewa, antara lain ditetapkan agar semua negara
berkembang yang semula menggunakan slogan sejenis "Basic Four"
memperbaiki menjadi "Nutrition Guide for Balance Diet". Keputusan FAO
tersebut diterapkan di Indonesia dalam kebijakan Repelita V tahun 1995
sebagai PGS dan menjadi bagian dari program perbaikan gizi. Namun, PGS
kurang disosialisasikan sehingga terjadi pemahaman yang salah dan
masyarakat cenderung tetap menggunakan 4S5S.
Baru pada tahun 2009 secara resmi PGS diterima masyarakat, sesuai dengan
Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 2009 yang menyebutkan secara
eksplisit "Gizi Seimbang" dalam program perbaikan gizi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), malnutrisi berarti ada
kekurangan atau ketidakseimbangan dalam asupan nutrisi seseorang.
Jenis malnutrisi
Malnutrisi ini mencakup dua kelompok besar.
1. Kekurangan gizi, yaitu mencakup wasting (kekurangan tenaga), stunting (pendek), underweight (berat badan rendah).
2. Kelebihan gizi, yaitu berupa kelebihan pasokan nutrisi yang dapat menyebabkan obesitas, keracunan vitamin, dll.
Penyebab Malnutrisi yaitu:
- Kurangnya nafsu makan
- Gangguan pencernaan
- Peningkatan permintaan energi tubuh
- Kondisi kesehatan mental seperti skizofrenia atau depresi yang mempengaruhi suasana hati dan meningkatkan keinginan untuk makan
- Mengidap penyakit tertentu seperti penyakit crohn atau kolitis ulseratif, yang mengganggu kemampuan tubuh untuk mencerna makanan atau menyerap nutrisi
- Penyebab lain malnutrisi dapat berupa anoreksia dan gangguan makan lainnya
- Alkoholisme
- Menyusui.
Tanda dan gejala malnutrisi yaitu:
- Hilangnya minat pada makanan atau minuman
- Rasa tidak nyaman dan lelah
- Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi
- Merasa dingin sepanjang waktu
- Hilangnya jaringan tubuh, massa otot, dan kehilangan lemak
- Waktu penyembuhan yang lebih lama untuk luka
- Lebih sering sakit dan memerlukan waktu untuk pulih
- Mudah lelah dan mudah tersinggung.
Dampak malnutrisi pada orang dewasa
Orang
dewasa yang lebih tua dengan gizi buruk dapat memiliki banyak masalah
kesehatan seperti kehilangan berat badan yang tidak disengaja, mengalami
kelemahan otot, kelelahan, depresi dan anemia.
Karena masalah kesehatan ini, orang dewasa yang kurang gizi baiknya mengunjungi dokter gizi untuk berkonsultasi.
Gizi buruk adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berat dan tinggi badan balita jauh di bawah rata-rata.Maka itu, untuk mengetahui status gizi yang satu ini, indikator yang
digunakan adalah grafik berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
Selain berat dan tinggi badan, lingkar lengan atas (LILA) juga masuk
ke dalam pemeriksaan klinis gizi buruk pada anak dan balita.Kondisi gizi buruk pada anak tidak terjadi secara instan atau singkat.Artinya, anak yang masuk ke dalam kategori gizi buruk sudah
mengalami kekurangan berbagai zat gizi dalam jangka waktu yang sangat
lama.
Jika diukur menggunakan Grafik Pertumbuhan Anak (GPA) yang mengacu pada WHO dengan berbagai indikator pendukung, anak dengan kondisi gizi buruk memiliki kategori sendiri.
Pada anak, bisa dikatakan mengalami gizi buruk ketika hasil
pengukuran indikator BB/TB untuk status gizinya kurang dari 70 persen
nilai median.
Mudahnya, nilai cut off z score berada nilai pada kurang
dari -3 SD. Gizi buruk paling sering dialami oleh anak balita ketika
tubuhnya kekurangan energi protein (KEP) kronis.
Gejala umum gizi buruk pada anak
Menurut Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk dari Kementerian Kesehatan RI, berikut gejala gizi buruk yang umum pada anak-anak:
Gizi buruk tanpa komplikasi
Gizi buruk pada anak tanpa komplikasi memiliki berbagai gejala seperti:
Terlihat sangat kurus
Mengalami edema atau pembengkakan, paling tidak pada kedua punggung tangan atau pun kaki
Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD
LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan
Nafsu makan baik
Tidak disertai dengan komplikasi medis
Gizi buruk dengan komplikasi
Sementara itu, gizi buruk pada anak dengan komplikasi ditandai dengan berbagai gejala seperti:
Terlihat sangat kurus.
Edema atau pembengkakan pada seluruh tubuh.
Indikator penilaian status gizi BB/PB atau BB/TB kurang dari -3 SD
LILA kurang dari 11,5 cm untuk anak usia 6-59 bulan
Memiliki satu atau lebih komplikasi medis seperti anoreksia,
pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi, dan
penurunan kesadaran.
Apa saja masalah gizi buruk pada anak?
Secara klinis, permasalahan gizi buruk pada anak balita terbagi menjadi beberapa kategori, yaitu:
1. Marasmus
Sumber: Healthline
Marasmus adalah kondisi kurang gizi yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya asupan energi harian.
Padahal seharusnya, penting untuk mencukupi kebutuhan energi setiap
harinya guna mendukung semua fungsi organ, sel, serta jaringan tubuh.
Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa sebenarnya bisa mengalami marasmus.
Namun, kondisi ini paling sering dialami oleh usia anak-anak yang biasanya terjadi di negara-negara berkembang.
Bahkan menurut data dari UNICEF, kekurangan asupan zat gizi merupakan salah satu dalang penyebab kematian pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Kasus ini bisa memakan korban hingga mencapai angka sekitar 3 juta setiap tahunnya.
2. Kwashiorkor
Sumber: Sumber: Freewaremini
Kwashiorkor adalah
kondisi kekurangan gizi yang penyebab utamanya karena rendahnya asupan
protein. Berbeda dengan marasmus yang yang mengalami penurunan berat
badan, kwashiorkor tidak demikian.
Anak gizi buruk karena kwashiorkor memiliki ciri-ciri tubuh membengkak karena mengalami penumpukan cairan (edema).
Itu sebabnya, meski telah kehilangan massa otot dan lemak tubuh, anak
dengan khwarshiorkor tidak mengalami penurunan berat badan yang
drastis.
3. Marasmik-kwashiorkor
Sumber: Psychology Mania
Sesuai dengan namanya, marasmik-kwashiorkor adalah bentuk lain dari
gizi buruk pada anak balita yang menggabungan kondisi dan gejala antara
marasmus dan kwashiorkor.
Kondisi gizi buruk ini ditentukan dengan indikator berat badan balita
berdasarkan usia (BB/U) kurang dari 60 persen baku median WHO.
Anak yang mengalami marasmik-kwashiorkor memiliki beberapa ciri utama, seperti:
Bertubuh sangat kurus
Menunjukkan tanda-tanda tubuh kurus (wasting)
di beberapa bagian tubuh, misalnya hilangnya jaringan dan massa otot,
serta tulang yang langsung kentara pada kulit seolah tidak terlapisi
oleh daging.
Mengalami penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh.
Namun, tidak seperti kwashiorkor yang mengalami pembengkakan pada
perut, adanya edema pada anak dengan marasmus dan kwashiorkor sekaligus,
biasanya tidak terlalu mencolok.
Bukan hanya itu saja, berat badan anak yang mengamai marasmus dan
kwashiorkor sekaligus biasanya berada di bawah 60 persen dari berat
normal di usia tersebut.
Dampak gizi buruk pada anak
Anak-anak yang tidak mendapatkan nutrisi yang cukup berpotensi
mengalami komplikasi serta gangguan kesehatan jangka panjang, seperti:
1. Gangguan kesehatan mental dan emosional
Menurut Children’s Defense Fund, anak-anak yang kekurangan asupan nutrisi berisiko menderita gangguan psikologis.
Sebagai contoh, rasa cemas berlebih maupun ketidakmampuan belajar, sehingga memerlukan konseling kesehatan mental.
Sebuah studi “India Journal of Psychiatry” tahun 2008 mencatat dampak dari gizi buruk pada anak, yaitu:
Kekurangan zat besi menyebabkan gangguan hiperaktif
Kekurangan yodium menghambat pertumbuhan
Kebiasaan melewatkan waktu makan atau kecenderungan pada makanan mengandung gula juga berkaitan dengan depresi pada anak.
Gizi buruk juga membawa dampak yang buruk bagi perkembangan dan kemampuan adaptasi anak pada situasi tertentu.
Anak menjadi lemas, lesu, dan tidak dapat bergerak aktif karena kekurangan vitamin, mineral, dan nutrisi lainnya.
Hal ini didukung oleh data World Bank yang juga mencatat hubungan antara gizi buruk dan tingkat IQ yang rendah.
Anak-anak ini juga mungkin mengalami kesulitan mencari teman karena masalah perilaku mereka.
Gagalnya anak untuk mencapai aspek akademis dan sosial akibat gizi
buruk tentu saja memiliki dampak negatif yang berkelanjutan sepanjang
hidupnya apabila tidak segera disembuhkan.
3. Penyakit infeksi
Dampak gizi buruk lainnya yang kerap kali terjadi adalah risiko penyakit infeksi.
Hal ini disebabkan oleh sistem kekebalan tubuhnya yang tak kuat akibat nutrisi tubuh yang tidak terpenuhi.
Ada banyak vitamin dan mineral yang sangat memengaruhi kerja sistem kekebalan tubuh, misalnya vitamin C, zat besi, dan zink.
Bila kadar nutrisi tersebut tidak tercukupi, maka sistem kekebalan tubuhnya juga buruk.
Belum lagi jika ia kekurangan zat gizi makro seperti karbohidrat dan
protein yang merupakan sumber energi dan pembangun sel-sel tubuh.
Kekurangan nutrisi tersebut akan membuat fungsi tubuhnya terganggu.
4. Anak pendek dan tidak tumbuh optimal
Pertumbuhan dan perkembangan si kecil yang terhambat adalah dampak gizi buruk pada anak.
Di masa pertumbuhan, si kecil sangat memerlukan zat protein yang
diandalkan untuk membangun sel-sel tubuh dan karbohidrat sebagai sumber
energi utama tubuh.
Bila tidak ada protein dan zat nutrisi lainnya, bukan tidak mungkin
pertumbuhan si kecil terhambat bahkan berhenti sebelum waktunya.
Maka itu penting bagi Anda untuk terus memantau kesehatan sang buah hati, apalagi jika ia masih dalam usia di bawah lima tahun.
Lewat mengetahui status gizinya, Anda juga akan mengetahui apakah
perkembangan si kecil normal atau itu. Untuk itu, sebaiknya selalu
periksakan anak ke dokter dengan rutin.
Panduan penanganan gizi buruk pada anak
Sesuai dengan penatalaksanaannya, Kementerian Kesehatan RI membagi penanganan gizi buruk pada anak dibagi atas 3 fase.
1. Fase stabilisasi
Fase stabilisasi adalah keadaan ketika kondisi klinis dan metabolisme anak belum sepenuhnya stabil.
Dibutuhkan waktu sekitar 1-2 hari untuk memulihkannya, atau bahkan bisa lebih tergantung dari kondisi kesehatan anak.
Tujuan dari fase stabilisasi yakni untuk memulihkan fungsi organ-organ yang terganggu serta pencernaan anak agar kembali normal.
Dalam fase ini, anak akan diberikan formula khusus berupa F 75 atau modifikasinya, dengan rincian:
Susu skim bubuk (25 gr)
Gula pasir (100 gr)
Minyak goreng (30 gr)
Larutan elektrolit (20 ml)
Tambahan air sampai dengan 1000 ml
Fase stabilisasi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pemberian susu formula sedikit tapi sering
Pemberian formula khusus dilakukan sedikit demi sedikit tapi dalam frekuensi yang sering.
Cara ini bisa membantu mencegah kadar gula darah rendah
(hipoglikemia) serta tidak membebankan saluran pencernaan, hati, dan
ginjal.
Pemberian susu formula setiap hari
Pemberian formula khusus dilakukan selama 24 jam penuh. Jika dilakukan setiap 2 jam sekali, berarti ada 12 kali pemberian.
Jika dilakukan setiap 3 jam sekali, berarti ada 8 kali pemberian.
ASI diberikan setelah susu formula khusus
Bila anak bisa menghabiskan porsi yang diberikan, pemberian formula
khusus bisa dilakukan setiap 4 jam sekali. Otomatis ada 6 kali pemberian
makanan.
Jika anak masih menyusui ASI, pemberian ASI bisa dilakukan setelah anak mendapatkan formula khusus.
Bagi orangtua, sebaiknya perhatikan aturan pemberian formula seperti:
Lebih baik gunakan cangkir dan sendok daripada botol susu, meskipun anak masih bayi.
Gunakan alat bantu pipet tetes untuk anak dengan kondisi sangat lemah.
2. Fase transisi
Fase transisi adalah masa ketika perubahan pemberian makanan tidak menimbulkan masalah bagi kondisi anak.
Fase transisi biasanya berlangsung selama 3-7 hari dengan pemberian susu formula khusus berupa F 100 atau modifikasinya.
Kandungan di dalam susu formula F 100 meliputi:
Susu skim bubuk (85 gr)1wQ
Gula pasir (50 gr)
Minyak goreng (60 gr)
Larutan elektrolit (20 ml)
Tambahan air sampai dengan 1000 ml
Fase transisi bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Pemberian formula khusus dengan frekuensi sering dan porsi kecil. Paling tidak setiap 4 jam sekali.
Jumlah volume yang diberikan pada 2 hari pertama (48 jam) tetap menggunakan F 75.
ASI tetap diberikan setelah anak menghabiskan porsi formulanya.
Jika volume pemberian formula khusus tersebut telah tercapai, tandanya anak sudah siap untuk masuk ke fase rehabilitasi.
3. Fase rehabilitasi
Fase rehabilitasi adalah masa ketika nafsu makan anak sudah kembali
normal dan sudah bisa diberikan makanan agak padat melalui mulut atau
oral.
Akan tetapi, bila anak belum sepenuhnya bisa makan secara oral, pemberiannya bisa dilakukan melalui selang makanan (NGT).
Fase ini umumnya berlangsung selama 2-4 minggu sampai indiktor status gizin BB/TB-nya mencapai -2 SD dengan memberikan F 100.
Dalam fase transisi, pemberian F 100 bisa dilakukan dengan menambah
volumenya setiap hari. Hal ini dilakukan sampai saat anak tidak mampu
lagi menghabiskan porsinya.
F 100 merupakan energi total yang dibutuhkan anak untuk tumbuh serta berguna dalam pemberian makanan di tahap selanjutnya.
Secara bertahap, nantinya porsi menu makanan anak yang teksturnya padat bisa mulai ditambah dengan mengurangi pemberian F 100.
Panduan menangani anak dengan gizi buruk di rumah
Setelah menjalankan pengobatan yang disarankan, anak dapat dikatakan sembuh bila BB/TB atau BB/PB sudah lebih dari -2 SD.
Meski begitu, aturan pemberian makan yang tepat tetap masih harus dijalankan.
Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering sesuai dengan usia anak.
Rutin membawa anak untuk kontrol tepat waktu. Pada bulan pertama
sebanyak 1 kali seminggu, bulan kedua sebanyak 1 kali setiap 2 minggu,
dan bulan ketiga sampai keempat sebanyak 1 kali per bulan.
Selain itu, orangtua juga bisa membuat contoh resep berikut untuk anak:
Makanan formula kacang hijau
Bahan-bahan:
Tepung beras 25 gr
Kacang hijau atau kacang merah 60 gr
Gula 15 gr
Minyak goreng 10 gr
Garam beryodium dan air secukupnya
Cara membuat:
Rebus kacang hijau dengan 4 gelas air matang selama 30 menit.
Setelah matang, hancurkan menggunakan saringan kawat.
Campurkan tepung beras, gula, minyak, garam, dan air dingin sebanyak 50 cc (1/4 gelas).
Masukkan ke dalam air rebusan kacang hijau yang sudah dihancurkan, lalu aduk sampai matang di atas api kecil.
Makanan formula tahu dan ayam
Bahan-bahan:
Tahu 55 gr
Tepung beras 40 gr
Gula 20 gr
Minyak goreng 15 gr
Daging ayam 70 gr
Garam beryodium dan air secukupnya
Cara membuat:
Rebus tahu dan ayam dalam 500 cc air hingga matang, selama sekitar 10 menit.
Setelah matang, hancurkan dengan menggunakan saringan kawat atau diulek.
Masukkan tepung beras, gula, minyak, dan garam, dan lanjutkan memasak sembari di aduk di atas api kecil selama 5 menit.
Untuk mencegah gizi buruk, selalu konsultasikan kesehatan di kecil kepada dokter anak secara rutin.
Stunting menjadi
salah satu topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke
belakang. Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka
prevalensi (jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah)
stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen dari
tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah
bernapas lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen. Selain tingkat stunting yang
masih di bawah standar, pemahaman masyarakat tentang stunting pun masih
terbilang minim. Salah satu indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan
sebagai gizi buruk di tengah masyarakat awam.
Lantas
apa perbedaan antara stunting dan gizi buruk? Berikut penjelasannya.
1.
Ciri-ciri Anak dengan gizi buruk biasanya memiliki ciri-ciri kulit yang kering,
lemak di bawah kulit berkurang, dan otot mengecil. Jika telah mencapai tahap
lanjut, ada kemungkinan perut anak menjadi buncit. Sementara itu, ciri anak
yang mengalami stunting adalah pertumbuhannya yang melambat. Hal itu dapat
dilihat dari tubuh yang lebih pendek dan tampak lebih muda dibanding
teman-teman seusianya. Pubertas pada anak dengan kasus stunting pun kerap
terlambat.
2. Faktor penyebab Pada dasarnya, gizi buruk disebabkan oleh
kekurangan asupan gizi dalam waktu yang relatif singkat ketimbang stunting.
Kekurangan asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu membuat berat badan anak
turun dan memicu timbulnya gizi buruk.
Sedangkan
anak dengan kasus stunting, umumnya diakibatkan kekurangan gizi dalam jangka
panjang, terutama di masa 1.000 hari pertama kehidupan anak. Di samping itu,
ada faktor lain seperti tingginya frekuensi sakit anak dan bayi dengan berat
badan lahir rendah (BBLR) yang tidak tertangani dengan baik.
3. Dampak Anak
dengan gizi buruk akan mudah mengalami infeksi karena kekebalan tubuhnya
rendah. Selain itu, anak dengan gizi buruk juga memiliki intelligence quotient
(IQ) atau tingkat kecerdasan rendah. Pada jangka panjang, gizi buruk dapat
mengakibatkan pertumbuhan anak berhenti sebelum waktunya. Lebih jauh lagi, gizi
buruk dalam jangka panjang akan menyebabkan anak kurus (wasting) dan stunting.Sementara itu, stunting
pada anak akan berdampak pada gangguan metabolisme, rendahnya kekebalan
tubuh, dan ukuran fisik tubuh yang tidak optimal. stunting dalam jangka panjang dapat menyebabkan anak gagal tumbuh. Selain itu, kemampuan kognitif dan motorik anak pun akan terhambat.
Cegah gizi buruk dan stunting dengan memperhatikan asupan nutrisi anak
sejak dini. Selain itu, kecukupan nutrisi ibu hamil dan saat menyusui pun perlu
diperhatikan. Salah satu upaya yang penting untuk dilakukan adalah dengan
memberi air susu ibu (ASI) eksklusif hingga anak berusia enam bulan. Setelah
anak mencapai usia enam bulan, Anda bisa mulai mengenalkan makanan pendamping
ASI (MPASI). Anda pun perlu terus memberikan ASI hingga anak berusia dua tahun.
Menginjak
usia satu tahun, anak bisa mulai menikmati makanan keluarga. Pada masa ini, upayakan
untuk memberikan makanan sehat dan seimbang yang mengandung karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral. Di samping kecukupan nutrisi, kebersihan
diri dan lingkungan pun perlu dijaga untuk mencegah gizi buruk dan stunting.
Terapkan pola hidup bersih dan sehat ( PHBS), seperti cuci tangan pakai sabun
dan menjaga kebersihan sanitasi lingkungan rumah. Terakhir, pantau terus tumbuh
kembang anak untuk mencegah gizi buruk dan stunting sejak dini. Patuhi juga
jadwal imunisasi agar anak terhindar dari penyakit berat.
menjadi salah satu
topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke
belakang.
Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi
(jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah)
stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen
dari tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas
lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen.
Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman
masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu
indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di
tengah masyarakat awam.
menjadi salah satu
topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke
belakang.
Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi
(jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah)
stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen
dari tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas
lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen.
Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman
masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu
indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di
tengah masyarakat awam.
menjadi salah satu
topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke
belakang.
Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi
(jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah)
stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen
dari tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas
lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen.
Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman
masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu
indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di
tengah masyarakat awam.
menjadi salah satu
topik yang menarik perhatian banyak pihak selama beberapa tahun ke
belakang.
Merujuk hasil Survei Status Gizi Balita (SSGBI) 2019, angka prevalensi
(jumlah kasus penyakit pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah)
stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen. Angka ini turun 30,8 persen
dari tahun sebelumnya.
Meski demikian, angka tersebut belum bisa membuat pemerintah bernapas
lega. Pasalnya, batas maksimal angka stunting berdasarkan standar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah 20 persen.
Selain tingkat stunting yang masih di bawah standar, pemahaman
masyarakat tentang stunting pun masih terbilang minim. Salah satu
indikasinya adalah stunting yang kerap diartikan sebagai gizi buruk di
tengah masyarakat awam.
Nutrisi atau gizi adalah substansi organik yang dibutuhkan
organisme untuk fungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan,
pemeliharaan kesehatan.
Penelitian di bidang nutrisi mempelajari hubungan antara makanan dan
minuman terhadap kesehatan dan penyakit, khususnya dalam menentukan diet
yang optimal.
Seperti yang sering kita dengar sebelumnya bahwa ilmu gizi merupakan
cabang ilmu pengetahuan yang membahas mengenai makanan dan interaksinya
dengan organisme yang mengonsumsinya dengan tujuan sebagai pemeliharaan
dan peningkatan kesehatan organisme. Selain itu, gizi juga merupakan
kombinasi dari proses dimana semua bagian tubuh menerima dan
memanfaatkan material yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsinya dan
juga untuk pertumbuhan peremajaan komponen-komponen tubuh. Berikut
beberapa istilah yang sering berkaitan dengan gizi.
Makanan merupakan substansi yang
dimasukkan dalam tubuh yang akan membantu tubuh memenuhi kebutuhan
energi, pemeliharaan kesehatan, pertumbuhan, dan reproduksi.
Gizi optimum, berarti bahwa setiap orang
menerima dan memanfaatkan zat-zat gizi esensial dalam proporsi yang
sesuai dengan kondisi tubuh dan juga mampu menyediakan cadangan bagi
tubuh.
Status gizi, adalah suatu kondisi dari
tubuh yang merupakan suatu bentuk akumulasi intake zat-zat gizi melalui
makanan yang dikonsumsi tubuh. Status gizi berhubungan dengan konsumsi
dan pemanfaatan zat-zat gizi, sehingga memungkinkan status gizi setiap
orang berbeda-beda.
Status gizi baik, merujuk pada asupan
makanan yang baik dan seimbang, yang memenuhi semua kebutuhan zat gizi
yang dibutuhkan oleh tubuh. Orang dalam kondisi seperti ini bisa juga
dikatakan telah menerima gizi optimum.
Status gizi buruk, merujuk pada asupan
makanan yang tidak adequate atau bahkan asupan yang berlebih atau
rendahnya penyerapan zat-zat gizi oleh tubuh sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan gizi tubuh. Makan berlebihan dapat juga menghasilkan
status gizi yang buruk bagi seseorang.
Malnutrisi, merujuk pada efek fisik pada tubuh seseorang akibat intake makanan yang tidak adekuat dalam hal jumlah dan kualitas.
Gizi kurang, adalah suatu kondisi yang
diakibatkan oleh rendahnya asupan makanan. Biasanya kondisi ini karena
asupan makanan seseorang tidak dapat mencukupi kebutuhan metabolic
basalnya (BMR) yaitu energi minimum yang dibutuhkan tubuh untuk
menjalankan fungsi fisiologis tubuh.
Zat gizi, adalah komponen kimia dari
makanan yang menyediakan kebutuhan makanan bagi tubuh. Dibutuhkan oleh
tubuh dalam jumlah yang cukup dan mesti dikonsumsi secara teratur.
Setiap zat gizi – protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin, dan air
– masing-masing memiliki fungsi yang spesifik bagi tubuh. Namun secara
umum, fungsi zat gizi adalah menyediakan energi bagi tubuh, membangun
dan memperbaiki jaringan tubuh, dan mengatur proses metabolisme tubuh.
Sumber : Nutrition and Dietetics 2nd edition, Joshi. 2002.